17/11/2018 Oleh Redaksi 0

Tjahjo Kumolo & Puisi Viral

“Pemilu itu, festival. Bukan suatu war. Sebuah lomba. Bukan suatu perang atau pertandingan.”

Sosok yang satu ini selalu memberi info lewat whatsapps apa yang terkini, terjadi. Kepada para sahabat, ia selalu komunikasi di tengah kesibukannya.

“Apa yang dikirim ke saya, pasti baca. Tapi, maaf, kalau balasnya malam atau dini hari selepas kerja,” ujarnya sembari terkekeh.

Komitmen untuk terus berkomunikasi kepada para sahabat, memang dipegang benar. Ia memegang nomer hape yang sejak lama dimiliki, tak dioper ke ajudan.

Kesukaannya membantu. Seperti halnya ketika aktif di organisasi kepemudaan dan anggota DPR, Menteri Dalam Negeri Kabinet Kerja ini tetap bersahaja. Sama halnya ketika hobi bercerutu.

Terbiasa bebas diskusi kapan saja, kongkow, serta bergaul dengan semua kalangan. Ia benar-benar, tak mau ribet dengan aturan protokoler, termasuk ketika bersenda-gurau dengan keluarga dan sahabat.

Jadi, “Saya tidak ingin pakai voorijder, pengawalan juga tidak. Kecuali ada acara penting yang waktunya mepet dan harus cepat,” sambungnya.

Pak Menteri, eh Mas Tjahjo ini mengaku, senang menjadi orang bebas dan tidak ingin mendapat pengawalan yang membuat dirinya terkungkung tak bisa berbuat-apa.

Wong Solo ini paling suka blusukan, sebelum istilah blusukan itu terkenal seperti sekarang, karena Presiden Jokowi.

Hidup di politik, adalah hari-harinya bersosialisasi dengan ragam masyarakat dan kalangan.

Sosok berperawakan tinggi besar ini kerap menulis atau mengirim WA, atau kiriman yang unik, humor atau memotivasi.

Belakangan, ia melempar puisi “Catatan Malam”, yang kemudian ditulis ulang oleh media digital. Eh, viral, mengenai substansi Pemilu adalah sebuah kontestasi.

“Pemilu itu festival. Bukan suatu war. Sebuah lomba. Bukan suatu perang atau pertandingan,” ujarnya berpuisi.

Secara sederhana adalah upaya saling mendahalui. Bukan saling mengalahkan apa lagi saling menghancurkan. Karena itu, “Dinamakan juga sebagai pesta demokrasi.”

Tjahjo menyebut pemilu sebagai layaknya sebuah pesta, “Tentu diharapkan semua kontestan merasakan antusiasme. Dalam kontestasi pasti ada posisi lebih dulu atau posisi lebih unggul. Namun demikian, yang menang adalah tetap rakyat.”

Pengoleksi keris ini mengaku, kadang jam 1 atau pagi dini hari berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya. Kerja pagi, tidur larut malam. “Makan sop kambing juga masih berani,” ujarnya penuh syukur, dirinya diberi anugerah Tuhan sehat selalu.

Memiliki trik untuk tetap bugar dalam menjalani aktivitasnya. Prinsipnya, Tjahjo mengaku, yang namanya tugas harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. ”Untungnya saya sudah terbiasa tidur di atas pukul 24.00,” paparnya membuka rahasia.

Penganut politik kerakyatan dan kebangsaan yang dilandaskan pada nilai-nilai dasar Pancasila ini sejak SD sampai kuliah di kota Semarang.

Tamat SD tahun 1970, melanjut ke SMP Negeri 4 Semarang dan lulus 1973. Kemudian di kota yang sama melanjut ke SMA Negeri 1 Semarang dan lulus 1976.

Setelah itu, kuliah di Fakultas Hukum Universitas Dipenogoro, hingga meraih gelar sarjana hukum tahun 1985.

Semasa mahasiswa, Tjahjo sudah aktif berorganisasi. Tahun 1983-1985, dia menjabat Ketua Biro Organisasi KNPI Dati I Jawa Tengah dan kemudian terpilih menjadi Ketua DPD KNPI Dati I Jawa Tengah (1985-1988) dan Sekretaris Jenderal KNPI Dati I Jawa Tengah (1987-1990).

Kiprahnya secara nasional dimulai ketika kemudian Tjahjo terpilih menjadi Anggota Komisi II, III dan Anggota BKSAP DPR RI (1987, 1992) dan Ketua Umum DPP KNPI (1990-1993).

Dia juga aktif sebagai Ketua PP PPM (1989-1993), Dewan Pertimbangan PP PPM (1993-1997) dan Wantim PP FKPPI (1990-1997).

Lalu, selepas menjabat Ketua Umum DPP KNPI, dia menjadi Anggota Penasehat MPI/KNPI (1993-1996). Dalam kesempatan ini, dia mengikuti pendidikan di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) di Jakarta, 1994.

Namanya sempat tidak begitu bergaung, hingga bergemanya Gerakan Reformasi 1998. Dia pun tampil dalam gerbong pembawa suara reformasi dengan aktif sebagai Direktur SDM Litbang DPP PDI Perjuangan (1999-2002). Tahun 2000, dia menjadi Ketua OC HUT PDI Perjuangan.

Tahun 2001, Tjahjo sibuk dalam aktivitasnya sebagai Steering Comitte (SC) Rakernas PDI Perjuangan. Tahun 1999, Tjahjo terpilih menjadi Anggota DPR dari PDI-P (1999-2004) dan bertugas sebagai Wakil Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPR-RI (1999 – 2002), selanjutnya menjadi Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPR-RI (2002 – 2003).

Pada Pemilu tahun 2004, ia terpilih lagi menjadi Anggota DPR dari PDI-P, kemudian bertugas di Komisi XI dan Anggota BKSAP DPR RI (2004 – 2008) serta Wakil Ketua Tim Lumpur Sidoarjo DPR-RI (2006 – 2007). Bahkan menjabat Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR-RI (2004 – 2009).

Tahun 2005, Tjahjo kembali mengemban tugas Steering Comitte (SC) Rakernas PDI Perjuangan. Bahkan dipercaya menjadi SC Kongres II PDI Perjuangan (2005). Tahun 2006, dia kembali menjadi Ketua OC HUT PDI Perjuangan.

Di 2007, ia mengemban tugas sebagai Ketua OC Rakernas PDI Perjuangan. Tugas ini juga berhasil dilaksanakannya pada tahun 2008 dan 2009, menjadi Ketua OC Rakornas PDI Perjuangan (2008).

Pada Pemilu 2009, terpilih kembali menjadi Anggota DPR (2009-2014) dan bertugas sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR-RI (2009 – 2014) sekaligus sebagai Anggota Komisi I dan Koordinator GKSB Indonesia-Jepang (2009 – 2010).

Dalam struktur organisasi, Tjahjo menjabat Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDI Perjuangan (2005 – 2009) dan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Politik-Pemenangan Pemilu (2005 – 2010).

Menjelang Kongres III PDI Perjuangan (2010), Tjahjo pun kembali dipercaya menjadi Ketua OC. Pada Kongres III ini, ia dipilih oleh Ketua Umum terpilih, Megawati Soekarnoputri, untuk menjabat Sekjen PDI Perjuangan (2010-2015).

Gara-gara Asyik di Politik

Mantan Ketua Umum DPP KNPI (1990-1993), ini adalah putra dari Bambang Soebandiono (Alm. 1986), seorang Veteran Perjuangan Kemerdekaan TNI NPV: A.57390, Pangkat terakhir Letnan Satu) dan Ibu Toeti Slemoon (Alm. 2004).

Dia dibesarkan bersama saudara perempuannya Rini Mumpuni dalam kebersahajaan. Bagi sebagian orang, menjadi anggota Dewan bisa jadi merupakan sebuah kebanggaan.

“Terjun ke dunia politik, berarti siap-siap mengabdi dan kehilangan sebagian hak pribadi,” ujar pria yang menghabiskan hampir separuh usianya sebagai anggota DPR

Menariknya, ada periode karena asyik di politik, ia tak berkesempatan melihat kelahiran ketiga orang anaknya.

Tugasnya sebagai fungsionaris partai (pernah direktur Litbang PDIP dan Ketua DPP dan Sekjen) dan 7 tahun Ketua Fraksi DPR dan anggota Dewan, benar-benar menyita waktunya.

Baginya, kepentingan bangsa, negara, dan partai harus diletakkan di atas kepentingan keluarga.

Beruntung, keluarganya tidak pernah memprotesnya dan menganggap hal itu adalah konsekuensi memiliki ayah atau suami seorang politikus. Pertama terpilih sebagai Wakil Rakyat pada Pemilu 1987 sampai sekarang (5 Periode – 25 Tahun).

Meski cukup lama menjadi anggota Dewan, ia membantah anggapan bahwa kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2014, semata-mata hanya karena mengejar harta/uang dan kekuasaan.

Sebab, menurutnya, gaji dan tunjangan sebagai anggota DPR dan sebagai pejabat Tinggi Negara di atas Rp 50 juta per bulan yang menjadi haknya, lebih banyak yang tidak sempat masuk ke kantongnya.

Penghasilannya hampir seluruhnya digunakan untuk membiayai kegiatan politik serta iuran ke kas partai. Padahal, dirinya tidak memiliki pendapatan lain, selain dari gaji dan tunjangan dari negara.

Lalu, bagaimana Tjahjo membiayai kehidupan keluarganya? Kebetulan, istrinya adalah seorang dokter dan anak anaknya ada yang dokter, pilot dan sarjana hukum. Mereka sudah beranjak dewasa dan mandiri. Dengan demikian, untuk keperluan rumah tangga, lebih banyak diurus oleh istrinya.

”Kalau kita melihatnya selalu ke atas, tentu kurang. Alhamdulillah selama 25 tahun menjadi anggota Dewan, saya masih selamat dari godaan dan halangan. Meski mengaku tidak kaya-kaya amat, tapi saya selalu merasa cukup. Yang jelas, saya memiliki banyak teman/saudara dalam perjuangan,” ucapnya sambil tersenyum.

baca juga: majalah MATRA cetak (print) terbaru — klik ini