07/05/2019 Oleh Redaksi 0

Tanah 3,17 hektar Di Wilayah Pecatu, Membawa Korban

“Apes Bapak ini, Tanahnya Dijual Orang Justru Dia Diadili.”

MATRANEWS.id — Peristiwa ini terjadi di Kota Dewata, Bali. Kini menjadi viral dan menjadi berita nasional

I Made Anom Antara (49), warga Kecubung Denpasar diduga menjadi korban terjadinya persekongkolan jahat dalam penegakan hukum.

Berita ini, tak hanya beredar di media sosial, tapi melebar menjadi bahan rapat redaksi dan diangkat di beberapa media digital.

Terdakwa, sejatinya adalah korban. Eh, justru menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Tanah Made, dijual mitra usahanya.

Yang menjadi viral adalah, ketika bapak ini bukan mendapat ganti rugi, ia justru dijebloskan ke tahanan dan kini menghadapi sidang kasus penipuan.

Penasehat hukum terdakwa I Made Anom Antara, Mhd.A. Raja Nasution seusai sidang perdana pembacaan dakwaan di PN Denpasar, Bali Senin silam, kepada sejumlah wartawan mengatakan, kekecewaan atas proses hukum yang dialami kliennya.

Pengacara Anom menyebut, kasus yang dialami kliennya itu, disinyalir aparat penegak hukum tidak profesional. Dan, berlaku tidak adil, ibarat tebang pilih.

Raja Nasiotion mengatakan, berbagai upaya ditempuh untuk menyelamatkan kliennya, antara lain, dengan mengajukan keberatan ke pihak aparat penegak hukum. Namun, entah mengapa, tidak direspon positif.

“Ada apa dengan penegakan hukum di negeri ini?” keluh Raja Nasution,SH di luar sidang Pengadilan Negeri Denpasar, Bali.

Bagaimana tidak, tanah milik terdakwa seluas 3,17 hektar yang berada di wilayah Pecatu, dijual tanpa sepengetahuan I Made Anom Antara, selaku pemilik sah tanah tersebut.

“Tanda tangan klien saya dipalsukan dalam surat jual beli tanah tersebut,” kata Raja Nasution, tegas.

“Kini, malah klien saya justru dilaporkan ke polisi, dijebloskan ke tahanan. Sekarang, diadili di pengadilan dalam perkara kasus penipuan, kasihan sudah terjatuh masih ditekan,” Raja Nasution memaparkan kronologis kasus yang ditanganinya.

Raja Anom memaparkan keanehnya. Yakni, terdakwa yang sempat melaporkan soal tanahnya itu ke Polda Bali, justru tidak ditanggapi oleh penyidik.

Sebaliknya, masih menurut Raja Nasuition, justru Made Anom Antara yang dilaporkan telah melakukan penipuan oleh penjual tanah yang juga mitra bisnisnya Njoo Daniel Dino Dinatha.

“Kejanggalan dalam perkara ini, karena jaksa sebelumnya yang ditunjuk menangani perkara ini telah tiga kali menolak melanjutkan proses hukum klien kami ke pengadilan,” ujar Raja.

“Karena berkas tidak lengkap dan tidak memenuhi unsur pidana,” papar Raja.

Anehnya, Raja mengatakan, pihak petinggi di Kejati langsung menunjuk Jaksa baru yang tanpa menyertakan Jaksa sebelumnya. Hingga akhirnya oleh Jaksa Anom selaku penuntut umum langsung diajukan ke pengadilan.

“Ini namanya kasus yang menjerat klien kami telah dimanipulasi,” ujar Raja Nasution, Senin (29/4) silam.

Raja memaparkan, termasuk isi dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa I Dewa Gede Anom Rai SH di hadapan Hakim pimpinan IGN Putra Atmaja SH.MH dinyatakannya tidak melengkapi isi fakta yang sebenarnya, sebelum perkara ini tertuang dalam dakwaan.

“Ini JPU terkesan memaksakan diri. Ini sama saja dengan pelanggaran hukum acara dan HAM,” sentilnya yang akan menuangkan semuanya dalam eksepsi pada sidang yang dijadwalkan minggu ini.

Dalam dakwaan dibacakan JPU bahwa terdakwa diduga melakukan tindak penipuan terkait kerjasama dalam perusahaan yang melibatkan beberapa investor.

Akibat dari kerjasama ini, pihak Njoo Daniel Dino Dinatha beserta investor lainnya merasa dirugikan sebesar Rp3,9 miliar atas pembelian saham milik perusahaan terdakwa bernama PT Panorama Bali.

Di awal disebutkan bahwa, perusahaan terdakwa menjual sahamnya dengan melakukan kerjasama membangun sebuah kondominium hotel yang akan berdiri di lahan milik pribadi atas nama terdakwa seluas 3,17 hektar di Pecatu dekat Hotel Bulgary.

Di tengah perjalanan pihak Dino Dinatha merasa dirugikan lantaran perusahaan milik terdakwa memiliki sejumlah hutang yang harus segera dilunasi.

Atas hal tersebut, karena sudah terlanjur membeli saham sehingga melaporkan kasus ini ke ranah hukum.

Menyikapi ini, Raja selaku penasehat Hukum terdakwa menegaskan bahwa segalanya akan dibeberkan dalam pembelaannya di pengadilan.

Dimana pada intinya, sebelum melibatkan pihak Dino Dinatha sebagai investor dan membeli sejumlah saham di perusahaan milik terdakwa telah dilakukan MOU.

“Pada intinya sudah ada kerjasama yang tertuang dalam MOU. Bahkan disebutkan ada hutang-hutang, itu tertuang dalam MOU,” ujar Raja.

“Lalu, dimana letak penipuan yang dilakukan klien kami?” Raja dengan lantang memberi penjelasan soal ini ke media massa.

“Justru tanah milik klien kami dijual diam-diam dan dipalsukan tandatangannya, inipun sudah kami laporakan ke Polda Bali. Tetapi, kok justru tidak ditindaklanjuti,” tutur Raja.

“Justru klien kami yang dilaporkan oleh Dino Dinatha dan direspon cepat penyidik di Polda saat itu,” pungkas Raja Nasution.

baca juga: majalah MATRA edisi cetak — klik ini –terbaru

“Klien saya justru dilaporkan ke polisi, dijebloskan ke tahanan. Sekarang, diadili di pengadilan dalam perkara kasus penipuan, kasihan sudah terjatuh masih ditekan,” Raja Nasution memaparkan.