08/04/2019 Oleh Redaksi 0

SBY: “Rakyat Indonesia Jangan Dibelah sebagai “pro Pancasila” dan “pro Kilafah”.

“Tidak tepat kalau Pak Prabowo diidentikkan dengan kilafah. Demikian sebaliknya, mencap Pak Jokowi sebagai komunis juga narasi yang gegabah.”

MATRANEWS.id — Presiden Ke-6 RI (2004-2014) Susilo Bambang Yudhoyono mengomentari cara-cara kampanye Jokowi dan Prabowo, dari luar negeri saat mengobati sang istri.

Pria yang biasa dipanggil SBY ini pun mengirimkan surat terbuka terkait ketidaksepakatannya pada kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang dinilai tak lazim dan inklusif. Surat dikirimkan kepada Ketua Wanhor PD Amir Syamsudin, Waketum PD Syarief Hassan juga Sekjen PD Hinca Panjaitan.

Sosok kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949 dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah itu, berkomentar tentang “set up”, “run down” dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, kemarin.

“Kampanye akbar di GBK tersebut, tidak lazim. Tak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif,” ujar si anak tunggal yang menikah dengan Kristiani Herawati, anak dari Jenderal (purn) Sarwo Edhi Wibowo. Dari pernikahannya dikaruniai dua anak laki-laki; Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono.

Lulusan terbaik AKABRI angkatan 1973 dengan penghargaan Adhi Makayasa ini berharap, kita semua tetap dan senantiasa mencerminkan “inclusiveness”, dengan sasanti “Indonesia Untuk Semua” Juga mencerminkan kebhinekaan atau kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan.

“Unity in diversity”. Cegah demonstrasi apalagi “show of force” identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim.

Pemilihan Presiden menurut SBY adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, “Sejak awal “set up”nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap “Semua Untuk Semua” , atau “All For All”.”

SBY menyebut, pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal “kawan dan lawan” untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. “Dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa,” ujarnya.

Dalam komentarnya, “Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Saya pribadi, yang mantan Capres dan mantan Presiden, terus terang tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai “pro Pancasila” dan “pro Kilafah”.”

SBY mengingatkan, jangan sampai bangsa kita terbelah dalam dua kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya. “Kita harus belajar dari pengalaman sejarah di seluruh dunia, betapa banyak bangsa dan negara yang mengalami nasib tragis (retak, pecah dan bubar) selamanya,” tuturnya.

Mengutip pilpres tahun 2004, 2009 dan 2014 yang membuat bangsa kita disebut bangsa yang besar, bangsa yang sangat majemuk.

“Bagi kita, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati. Tidak boleh NKRI menjadi Negara Agama ataupun Negara Komunis. Indonesia adalah “Negara Pancasila” dan juga “Negara Berke-Tuhanan”,” ujar presiden pertama yang terpilih melalui pemilihan langsung oleh rakyat Indonesia.

“Tidak tepat kalau Pak Prabowo diidentikkan dengan kilafah. Sama tidak tepatnya jika kalangan Islam tertentu juga dicap sebagai kilafah ataupun radikal. Demikian sebaliknya, mencap Pak Jokowi sebagai komunis juga narasi yang gegabah,” tutur SBY.

Tinggalkan dan bebaskan negeri ini dari benturan identitas dan ideologi yang kelewat keras dan juga membahayakan. Gantilah dengan platform, visi, misi dan solusi. Tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti rakyat. Sepanjang masa kampanye, bukan hanya pada saat debat saja.

SBY memaparkan, bahwa Partai Demokrat komitmen berlandaskan jati diri, nilai dan prinsip. “Juga tidak menabrak akal sehat dan rasionalitas,” ujar mantan Presiden RI ini.

baca juga: majalah MATRA edisi cetak — klik ini —

SBY menyebut, pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal “kawan dan lawan” untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh.