10/01/2019 Oleh Redaksi 0

“Menaklukan Gunung Prasangka.”

Objektivitas data, fakta dan informasi sering bias di media sosial, apalagi di tahun politik 2019 ini.

MATRANEWS.id — Kalau mau jujur dan rendah hati, krisis kepercayaan di negeri ini beragam. Sejuta jenis ketidakpercayaan bertebaran di seputar kehidupan kita.

Fenomena krisis kepercayaan atau hilangnya rasa percaya ini, bahkan telah menukik ke hampir setiap dimensi kehidupan.

Jelasnya, ada perbedaan intensitas kejiwaan antara ketidakpercayaan dan prasangka. Pada ketidakpercayaan, apa pun yang dilakukan oleh siapa pun yang sudah tidak kita percayai, bahkan hal positif sekalipun, bagi kita tetap tak ada benarnya, tak ada kebenaran di dalamnya.

Sedangkan pada prasangka, bahkan tatkala pihak yang menjadi sasaran prasangka kita belum atau tidak melakukan apa pun, kita sudah tak melihat kebenaran padanya. Nah, prasangka jauh lebih membahayakan dan menakutkan!

Secara sederhana, prasangka bisa diartikan sebagai sikap (mental) yang tak kondusif, merugikan (pihak-pihak terkait), serbanegatif, yang mengarah pada anggota kelompok atau kelompok tertentu.

Data, fakta, informasi – lebih sering ditelikung, dimanipulasi, sehingga menjadi subjektif sifatnya.

Objektivitas data, fakta dan informasi sering bias di media sosial, apalagi di tahun politik 2019 ini.

Hati-hati dengan judul provokatif Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif.

Banyak berita medsos, mengambil berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat berita palsu itu.

Cermati alamat situs Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud.

Berita yang berasal dari situs media yang sudah terverifikasi Dewan Pers akan lebih mudah diminta pertanggungjawabannya.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita.

Periksa fakta Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya?

Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Perhatikan keberimbangan sumber berita.

Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita, sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

Cek keaslian foto Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video.

Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images.

Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

Ikut Dalam grup diskusi anti-hoax Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti-hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi itu, warganet bisa ikut bertanya, apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain.

Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Untuk mencegah Anda sendiri menjadi penyebar hoax, hilangkanlah kebiasaan membagikan konten tanpa membaca isinya secara menyeluruh.

Sikap hati-hati ini juga berlaku bagi narasumber yang mereka kutip, minimal dengan mencari referensi lanjutan di Google atau situs lain yang sudah terpercaya.

Jangan buru-buru menyimpulkan lalu ikut membagikannya.

baca juga: majalah MATRA edisi cetak (print) — klik ini —