18/01/2019 Oleh Redaksi 0

Majalah Eksekutif Terus Eksis Diprint (Cetak)

“Kami mengakuisi bisnis media cetak yang berkeinginan dengan multiplatform,” ujar S.S Budi Rahardjo, CEO PT Usaha Konvergensi Media (UKM) di awal 2017 lalu.


“Kami hanya kumpul tiap Selasa, hari lain, kami benar-benar memanfaatkan teknologi, bisa rapat lewat videocall

MATRANEWS.id — Membicarakan beratus-ratus perusahaan yang lenyap, di era teknologi dan perkembangan situasi saat ini. Tak hanya media cetak yang “rapuh” dan berakhir tutup, perusahaan dotcom dan media sosial yang sudah “bermain” di perdagangan saham, juga bisa “rontok” bila tidak menghasilkan apapun.

Valuasi perusahaan pun langsung terjun menjadi nol setelah diketahui perusahaan tidak mampu menghasilkan apapun. Valuasi yang tinggi ternyata tidak didasarkan pada fakta yang sesungguhnya. Banyak yang mengingatkan akan muncul “dead unicorn” ataupun “unicorpses”

Saat ini, memang, valuasi perusahaan teknologi memang luar biasa.

Perusahaan seperti Uber bahkan kini sudah dihargai hingga 50 miliar dolar, meski bisnisnya di sejumlah negara banyak menghadapi tantangan. Demikian pula Snapchat yang dihargai 16 miliar dolar meski belum menghasilkan pendapatan apapun.

Benarkah akan terjadi pecah gelembung teknologi?

Sebuah pepatah bijak di Silicon Valley mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada startups yang disebut unicorn dengan nilai lebih dari 1 miliar dolar, benar-benar bernilai 1 miliar dolar. Nilai itu mungkin akan dimiliki oleh mereka di masa depan, tetapi tidak untuk saat ini.

Bagi kebanyakan orang, hal itu memang terasa ganjil. Tapi itulah yang dilakukan oleh para capital ventures. Mereka membeli masa depan. Valuasi besar diberikan karena janji atas pertumbuhan di masa depan.

Valuasi tinggi memang diberikan pada sejumlah perusahaan teknologi pada saat ini. Namun, banyak kalangan yang meyakini booming teknologi sekarang ini tidak akan mengulangi gelembung dotcom yang terjadi di era 1990-an. Ini dikarenakan valuasi tinggi startups sekarang ini memiliki bisnis yang sesungguhnya.

Tak hanya ratusan, bahkan sampai ribuan situs e-commerce dan akun Facebook online shop menjamur di Indonesia. Meski masih dalam level amatir, artinya transaksi tidak menggunakan kartu kredit atau Pay Pal, namun gelombang e-commerce meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Gelembung e-commerce juga dilirik oleh para pemain e-commerce ilegal untuk ikut menikmati kuenya, yaitu dengan menyediakan situs penjualan online palsu untuk tujuan menipu. Tak main-main, terdapat 4.000 situs e-commerce palsu, menurut riset Yayasan Nawala.

Ketika banyak pengelola media cetak mengalami kebuntuan dan seolah pasrah dengan situasi yang mereka hadapi saat ini, Majalah MATRA dan majalah eksekutif komit hidup di media cetak, walau terus mengembangkan online www.matranews.id dan www.eksekutif.id..

Di tengah membanjirnya informasi dan berita yang ditampilkan media-media digital. Pergerakan isu, serta perkembangan terkini dari setiap isu yang berselancar dengan sangat cepat di ratusan media sosial, konon, membuat khalayak beramai-ramai meninggalkan media cetak.

Majalah MATRA dan majalah eksekutif terus menghadirkan data hubungan iklan dengan pembaca. Bahkan membentuk “tim buzzer” medsos.

Perusahaan media sosial bukanlah perusahaan media, hanya orang berbicara satu sama lain. Dan komunikasi semacam ini sulit sekali untuk mendatangkan uang. Umumnya perusahaan komunikasi seperti perusahaan telpon dapat uang dengan menagih orang, perusahaan media sosial berusaha mendapatkan untung dari iklan.

Majalah eksekutif yang terbit sejak 1979 sebagai majalah bisnis pertama yang dianugerahi Museum Rekord Indonesia (MURI) menjadi satu grup dengan majalah MATRA. Media cetak legendaris ini komitmen untuk terbit di edisi cetak, tidak terpengaruh dengan adanya rumors “senjakala media cetak.”

Beberapa biro iklan justru kerap menelpon media massa tersebut untuk menanyakan rate pasang iklan di media cetak, untuk pengaturan placement dan anggaran bujet marketing.

Fokus menjadi majalah bisnis dan gaya hidup di print (cetak) kalangan menengah atas, untuk seterusnya berkomitmen terus hadir di majalah edisi cetak yang bisa dibeli di toko buku terkemuka di seluruh Indonesia atau dibeli khusus lewat hotline, untuk kalangan luar negeri.

Penekanannya setelah bergabung menjadi satu di bawah bendera PT Usaha Konvergensi Media (UKM), majalah eksekutif dan MATRA mengembangkan majalah digital yang bisa dibeli di Higoapps, Myedision, dan Scoop yang kini menjadi Gramedia Digital.

Trend digital memang, diantisipasi dengan baik, termasuk mengembangkan fintech dan akan mengembangkan lewat lapak lain.

Kedua media terkemuka dan fenomena itu (MATRA dan Majalah eksekutif) dalam release-nya menegaskan, akan terus muncul di edisi cetak (print) dan bisa dibeli lewat aplikasi e-magazine dengan hanya memotong pulsa telepon atau mekanisme kartu kredit, atau pembayaran e-money lain.

Jika majalah eksekutif mengembangkan diri dalam usaha konvergensi online di www.eksekutif.com dan www.eksekutif.id, kini majalah MATRA bisa di klik di www.matranews.id

Untuk holding media mainstream, PT UKM tetap mengembangkan edisi print (cetak) untuk Majalah Eksekutif dan MATRA yang utama. Masih banyak instansi dan akademisi, universitas berlangganan edisi cetak.

Bahwa maksud dari penggabungan usaha tersebut di satu PT adalah, agar pengelolaannya lebih efisien juga dalam rangka menuju perubahan sebagai media di era Digital.

Saat ini PT UKM tengah mengembangkan dan melakukan bisnis riset untuk membangun transisi bisnis dari media cetak ke media start up.

“Kami mengakuisi bisnis media cetak yang berkeinginan dengan multiplatform,” ujar S.S Budi Rahardjo, CEO PT Usaha Konvergensi Media (UKM). “Menerima jika ada instansi, atau pihak manapun mau bekerjasama atau bersinergi,” jelasnya di kantor PT UKM di jalan Ampera Raya no 59, Kemang, Jakarta Selatan.

Menurut Jojo, sapaan akrab Budi Rahardjo, PT UKM sendiri telah berhasil menjalankan roda bisnis riset, investigasi dan multimedia sejak 2009. Mekanisme kerja tim bisa dimanapun menggunakan teknologi. “Kami hanya kumpul tiap Selasa, hari lain, kami benar-benar memanfaatkan teknologi, bisa rapat lewat videocall,” ujarnya.

Sukses melakukan standarisasi, filterisasi, serta positioning menjadi startup yang kompetitif. Akan terus mengambil atau mengakuisisi beberapa media digital yang punya kekhususan dan mengajak pihak-pihak lain untuk segera berkolaborasi.

PT UKM yang berdiri sejak 2009 awalnya merupakan startup pembuatan website perusahaan dan konsultan pembuatan buku-buku digital, kini melebarkan sayap dan membentuk akselerasi dalam spektrum lebih detil.

“Targetnya di 2018 ini, kami melakukan akuisisi sebagai implementasi diversifikasi bisnis untuk bergerak di bidang media massa cetak,” ujar pria yang punya insting optimis masa depan, bahwa media cetak masih kelihatan bagus dan belum rapuh.

“Tujuannya mengambil momentum pembuktian, bahwa startup asli Indonesia bisa menjadi bagian dari aplikasi yang berkibar di negeri sendiri,” papar Ketua Umum Asosiasi Media Digital Indonesia yang juga Ketua Forum Pimpinan Media Digital ini.

Sedang mengembangkan juga densusdigital.id, menurut wartawan senior yang socialpreneur ini, dia terus mengembangkan aplikasi mobile karya anak bangsa.

Melakukan pelatihan digital, bagi para humas dan profesi lain juga sedang mengembangkan aplikasi untuk generasi kekinian dan menjajaki untuk pembuatan aplikasi financial technology (fintech)

Majalah MATRA Akuisisi Majalah Eksekutif Yang Terbit Sejak 1979

majalah eksekutif edisi cetak terbaru — klik ini

Redaksi/Iklan: Jl Ampera Raya no 59, Kemang Jakarta Selatan.
Jika Anda ingin bekerjasama? silahkan hubungi Wa: 0816-1945288

Tidak terpengaruh dengan adanya rumors “senjakala media cetak.”