13/01/2019 Oleh Redaksi 0

“Hidup untuk Kerja” atau “Kerja untuk Hidup?”

MATRANEWS.id — Hampir sebagian besar dari kita semua memiliki pekerjaan. Pekerjaan yang saya maksud disini adalah pekerjaan yang menghasilkan suatu income/ reward yang dalam bentuk uang. Uang tersebut tentu untuk membiayai kebutuhan hidup, terutama kebutuhan pokok.

Di jaman krisis economy dunia, mempunyai pekerjaan sudah merupakan suatu anugerah, suatu yang patut disyukuri karena banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan atau memang sedang mencari pekerjaan tapi sampai kini belum juga menemukan pekerjaan.

Sedangkan, walau jaman sedang krisis economi, tidak sedikit juga pengusaha yang masih bisa bertahan bahkan terus berkembang. Ada juga pekerja pekerja sosial yang bekerja di yayasan atau institusi lain yang tidak bertujuan kepada profit.

Intinya apapun bentuknya pekerjaan, merupakan bagian kehidupan kita yang hampir tidak bisa dipisahkan. Mempunyai pekerjaan juga selain menghasilan income, juga merupakan status sosial.

Maksud saya disini, kalau seseorang ditanya, “Kerja apa“ atau “Kerja dimana?”, maka jawaban bahwa yang bersangkutan memiliki pekerjaan tetap, apalagi yang persepsi masyarakat pada umumnya adalah pekerjaan yang menghasilkan penghasilan yang lumayan, akan memberi sense of pride kepada yang ditanya.

Kita semua mau tidak mau mengakui, kadang malu kalau ditanya “Kerja apa?“ atau “Kerja dimana“ dan kenyataan-nya adalah kita tidak mempunyai pekerjaan.

Namun bagi orang orang yang sudah memiliki penghasilan yang jumlahnya lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan pokok, pekerjaan bukan saja sekedar mencari uang tapi memberi suatu kepuasan tersendiri, boleh dibilang, selain reward akan adanya kemungkinan karir-nya semakin meningkat.

Sebetulnya, kadang, orang orang ini tetap bekerja walau uangnya sudah banyak, tidak lain dari untuk mengisi kehidupan dengan suatu hal yang dia nikmati, yaitu bekerja.

Belum lama ini saya dan suami mengunjungi bekas teman sekelas kami ketika kami kuliah di LA dulu.

Teman saya ini, mempunyai penghasilan lebih dari cukup, dari hasil penerima uang sewa dari berbagai macam property yang ia miliki , sehingga ketika ia menyatakan rencananya untuk membuka restaurant.

Ia berkata, “Tidak apa untungnya sedikit.” Tapi, dengan adanya restaurant itu dia merasa punya kegiatan untuk mengisi kehidupan. Intinya, dia menjelaskan bahwa dorongan untuk membuka restaurant itu bukan ditujukan kepada profit tapi lebih ke arah mencari kegiatan.

Nah, ini dia, “Mencari kegiatan”.

Saya kadang heran, ada yang hidup ibarat masih serba sulit, kebutuhan pokok masih Senin-Kamis. tapi jangankan mencari kegiatan, ya diam saja, ibarat menunggu keajaiban. Melamar pekerjaan saja tidak. Sedangkan yang uang-nya sudah banyak, malah semakin sibuk dan malah mencari kegiatan kegiatan lain.

Dari sudut pandang lain: “Kenapa ya, uangnya sudah banyak, lebih dari cukup, dan bisa pensiun dini bahkan, tapi masih saja mencari kegiatan?”

Pertanyaannya kemudian, “Kita ini, hidup untuk bekerja”..atau “Bekerja untuk hidup?”

Pengakuan teman saya yang lain untuk terus mencari kegiatan adalah supaya tidak kur-ker (kurang kerjaan) yang nanti, ujung-ujungnya malah duduk merenung memikirkan hal hal yang tidak tidak atau menggosip.

Intinya, menurut mereka kalau (kur–ker) nantinya akan berdampak negatif tentang bagaimana menjalankan hidup ini.

Ada juga yang berpendapat, namanya mencari uang: “Ya, tidak akan ada rasa “cukup”.

Kalau sudah punya Rp 1 Milyar, kenapa tidak kalau bisa mencetak Rp 2 M? Nanti, kalau sudah punya Rp 10 M pun, kenapa tidak kalau ada lagi kesempatan untuk melipat gandakan-nya menjadi Rp 100 M kalau perlu.

Jadi, soal mencari uang, berarti hampir tidak ada titik puas, tidak terkecuali bagi mereka yang tergolong orang orang yang terkaya di dunia.

Tapi ada juga sebagian orang yang saya kenal, cara mereka hidup dan bekerja seperti ini: bekerja satu tahun penuh, hidup hemat dan menabung, setelah itu liburan 1 bulan penuh di suatu negara yang ia belum pernah kunjungi dan disana dia habiskan uang tabungan hasil bekerja dan menabung 1 tahun penuh.

Kadang, kalau dana yang diperlukan untuk mengunjungi tempat “idaman”-nya membutuhkan dana yang lebih besar, ya teman saya ini akan bekerja, berhemat dan menabungs selama dua tahun penuh. Dan setelah itu ketika tabungannya sudah cukup, maka ia benar benar berhenti bekerja selama satu atau dua bulan mengunjungi tempat idamannya.

Mendengar ‘ gaya hidup ‘ atau relasi antara kerja dan hidup teman saya ini, ada yang berkomentar: “Ya kalau saya tidak berkeluarga, tidak ada beban ya. Tentu, saya bisa coba life style seperti itu.“

Tapi, ada juga yang single dan tidak punya tanggungan berkata: “Wah saya egngak berani kalau semua tabungan dihabiskan jalan jalan seperti itu. Nanti, kalau pas uangnya habis lalu butuh pekerjaan dan tidak ada perusahaan yang mau menerima bagaimana? “

Jadi, balik lagi ke pandangan kita masing masing mengenai kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja.

Teman saya ini yang suka bekerja, berhemat, menabung selama 1 tahun atau selama dibutuhkan sampai uangnya cukup untuk travel around the world, jelas jelas bekerja untuk hidup.

Yang hidup untuk bekerja bisa jadi supir saya, karena kalau tidak nyupir maka tidak ada gaji yang bisa di berikan kepada keluarganya, begitu juga dengan para pembantu rumah tangga saya.

Tapi, bisa jadi juga saya sendiri, karena saya benar-benar masih sekuat tenaga menyeimbangkan antara hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup. Contoh, menulis artikel ini, saya tidak dapat uang satu sen pun.”

Bagi saya, menulis adalah “kegiatan” maka menulis memberi saya suatu kepuasan batiniah selain rasa tanggung jawab ketika saya berjanji memberikan tulisan – melatih rasa integritas – melakukan apa yang saya janjikan baik ada yang membaca tulisan ini atau tidak.

Menulis, secara tidak langsung adalah upaya saya untuk bekerja untuk hidup/ bekerja untuk mengisi kehidupan dengan hal hal yang positif dan menyeimbangkan nya dengan pekerjaan tetap saya sebagai pengusaha dan sebagai istri dan ibu dari dua orang anak.

Saya masih terus mencoba menemukan keseimbangan yang saya sebutkan diatas karena saya tahu hidup ini mau dibilang cepat.

Ya..engga cepat-cepat amat, mau dibilang lama, well, kita mana tahu umur kita sampai berapa?

Sering kita mendengar slogan “Live your life to the fullest“. Dan, siapa sih yang tidak mau untuk “Live the life to the fullest?“ – tapi herannya…

Walau saya sama-sama mau, “Live the life to the fullest“ kadang masih….saja susah untuk meninggalkan pekerjaan misalnya 1 bulan penuh untuk pergi ke Paris dan belajar bahasa di sana sebagai salah satu program saya untuk “Live the life to the fullest “.

Malahan, begitu ada yang menawarkan ada proyek ini dan itu – kerjaaaaaa lagi…langsung ganti haluan/ pending program “Live to the fullest“-nya balik ke “Work as hard as you can while you can“.

Bagaimana dengan Anda ? Apa anda hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup?

#AD

tulisan ini sudah dimuat di Majalah HealthNews (www.healthnews.co.id), UNODC

baca juga: majalah MATRA cetak (print) edisi terbaru — klik ini —