Sudirman Said, Perjalanan Mentranformasi dan Menata Institusi

  • adminbagus
  • October 24, 2017
  • 0
 
Saat ditanya tentang pencalonannya dalam Pilgub Jateng 2018, dia mengaku siap jika dibutuhkan. Sudirman tertekad akan berikhtiar secara sehat, serius, dan bersungguh-sungguh.
 
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masa jabatan 2014-2016, Sudirman Said mengatakan, politik tak bisa dibiarkan kotor selamanya. Rupanya, tekat itulah yang menguat dalam dirinya.
“Keberanian”nya untuk jalan di tengah, telah ia buktikan dalam sebuah langkah. Alumnus Sekolah Tinggi Akutansi Negara, terentaskan hingga bisa disebut sebagai: pegawai, profesional, pengajar hingga aktivis.
 
Bak rangkaian cerita film yang terputar kembali. kAlih-alih mendobrak tiada ampun, ia mendadak diterpa “angin puyuh”. Bahkan, sosoknya dianggap naif, ketika ingin “menerangi Indonesia”.
Sejarah memang telah mencatat, ia salah satu dari sosok pemimpin jujur, profesional dan sudah selesai dengan dirinya.
Prinsipnya, harus ada orang-orang baik yang membersihkannya agar politik memberi manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan kemajuan dan kesejahteraan bersama.
 
Memilih disetir hati nurani.
Baginya, “martabat, kehormatan, harga diri, profesionalisme Anda tidak untuk diperjual belikan.”
Punya reputasi sebagai aktivis anti korupsi, banyak yang meragukannya apakah bisa masuk ke kancah politik. Jawabnya, Politik harus dikembalikan kepada hakikat dan makna politik itu sendiri. Yakni setiap usaha manusia untuk memperbaiki keadaan guna mencapai keselamatan dunia dan akhirat.”
 
Ketika dalam organisasi Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), bersama sosok Mar’ie Muhammad, Cak Nurcholish Madjid dan Prof Koesnadi Hardjasoemantri yang semuanya sudah wafat, Sudirman banyak belajar dan berdiskusi. Ia menyatukan para aktivis berlatar belakang sosial-kultural pesisir (bahari) maupun pedalaman (agraris).
 
Pria yang oleh banyak orang disebut keras kepala ini, terus menghidupkan kebenaran dalam fase hidupnya. Walau, hidupnya penuh risiko seperti naik roller coaster. Idealismenya tak luntur, seperti halnya “tim sukses Presiden Jokowi” yang kini sudah menjadi Komisaris di beberapa BUMN, dan kemudian tak lagi memberikan arah kemana bangsa ini.  
 
Sebagai Menteri ESDM membentuk tim mafia migas, kemudian membubarkan Petral, hingga membongkar “papa minta saham” – dimana Setya Novanto terpental dari kursinya sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.
 
Kini, ia disebut-sebut terjun ke dunia politik sebagai bakal calon Gubernur Jawa Tengah. Pemikiran, pandangannya serta pengalamannya selama ini ditantang untuk berani juga turun langsung membenahi ketimpangan, mewujudkan keadilan sosial, yang sejatinya merupakan tujuan akhir bernegara.
 
Pria kelahiran di Brebes, Jawa Tengah 16 April 1963 ini memang dikenal sebagai tokoh anti korupsi, pekerja rehabilitasi kawasan bencana, eksekutif di industri minyak dan gas, serta direktur utama perusahaan senjata nasional.
Saat ini bergandeng tangan bersama relawan untuk mendukung dirinya agar bisa mulai berinteraksi dengan para pendukung partai dan ulama.
 
“Demokrasi yang baik memang butuh pilar parpol yang kuat, oleh karena itu saya tidak mempertimbangkan untuk masuk dari jalur independen,” kata pria yang dinilai berhasil saat ia diminta menangani Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias, 2005-2007.
 
Master Bidang Administrasi Bisnis dari Universitas George Washington, Amerika Serikat, 1994 ini yang membentuk Satuan Anti Korupsi (SAK). Ia bertugas mendidik semua pemangku kepentingan di Aceh dan Nias pasca tsunami. Sudirman menjelaskan bahwa BRR telah membatalkan tender proyek bermasalah senilai 157 miliar rupiah.
 
Menjadi aktivis korupsi dimulai ketika aktif di beberapa organisasi anti korupsi, seperti Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) bersama Erry Riyana Hardjapamengkas, Arief T Surowijoyo dan Anies Sunaryadi, termasuk mendorong embrio lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi. Juga di Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG) (2000).
 
Anak desa di Brebes ini, orangnya teliti dan disiplin.
Ini yang selalu Sudirman Said tunjukkan saat masih kecil, di sekolah, kuliah, hingga bekerja. Berbeda dengan aktivis lainnya. Ia berpenampilan rapi dan bukan aktivis jalanan. Ia lebih banyak menyoal transparansi keuangan sebuah lembaga atau instansi.
 
Pria yang mengaku berasal dari keluarga serba pas-pasan dan pernah menjadi kernet angkutan sewaktu masih sekolah. “Saya sempat menjadi kernet angkutan pedesaan di kampung kelahiran saya, Kabupaten Brebes,” kata anak dari seorang ibu yang bekerja serabutan, sebagai buruh tanam, penjahit baju dan penjual kue. Masa itu, menurut Sudirman, tak ada perbedaan antara makan dan tak makan, karena semuanya serba sulit.
 
Ayahnya meninggal saat ia duduk di bangku kelas 4 SD. Sejak saat itu kebutuhan biaya sekolah tersendat. Untuk bisa melanjutkan sekolah Sudirman ngenger (menumpang tinggal) di rumah saudara sambil membantu pekerjaan rumah. “Sambil sekolah SMP hingga SMA, setelah itu enggak mikir bisa kuliah,” kata Sudirman menjelaskan.
 
Rupanya garis nasib mengubah Sudirman Said. Ia diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Lulus dari sekolah inilah menjadi kehidupan pahit Sudirman berangsur berlalu. Di kampus yang dikenal menciptakan para auditor handal ini mengubah hidupnya.
Mengaku ingin mewakafkan dirinya untuk publik. “Suatu yang dampaknya lebih luas. Saya bukan orang yang punya uang banyak, tapi cukup untuk menyekolahkan anak-anak saya,” katanya.
 
Berikut wawancara lengkap tim S.S Budi Rahardjo, Nurul Irfan dan YuAdriansyah serta Miskolla di kantornya, kawasan Kebayoran Baru. Sudah banyak media massa antri untuk minta waktu wawancara. Dengan gayanya yang bersahabat dan humanis, Sudirman Said bercerita situasi sekarang hingga kesiapannya untuk pencalonan Gubernur Jawa Tengah 2018:
 
Sebagai aktivis anti korupsi, bagaimana dengan kondisi Indonesia saat ini dengan banyak korupsi yang melibatkan banyak elite politik?
Bangsa Indonesia patut bersyukur, tetapi juga harus prihatin. Bersyukur, karena masih ada lembaga penegak hukum yang dapat diandalkan, tetap menangani perkara ‘high profile’ meskipun dalam tekanan hebat dari elite politik.
 
Di sisi lain bangsa ini juga harus prihatin. Prihatin karena lembaga negara yang harus dijaga harkatnya, ternyata dipimpin figur bermasalah. Baru di Indonesia, sejumlah pimpinan lembaga tinggi negara terserempet kasus korupsi. Ini suatu musibah yang dapat mengarah pada situasi ‘darurat kepemimpinan nasional’.
Mungkin tidak ada negara yang hampir seluruh pimpinan lembaga tinggi negaranya terseret kasus korupsi. Ketua DPR, Ketua DPD, Ketua BPK, Ketua Mahkamah Konstitusi, sampai para hakim dan pejabat Mahkamah Agung, seluruhnya terserempet kasus korupsi.
 
Anda mengamati Republik sedang mengalami penurunan batas-batas kepatutan?
Ya. Korupsi dalam jumlah miliaran dianggap kecil setelah ada kasus mega korupsi KTP elektronik senilai Rp 2,5 triliun. Tokoh nasional mempermainkan hukum, membohongi publik dianggap hal biasa. Di hadapan elite, hukum seolah menjadi seperti barang mainan.
Mereka yang sudah ditetapkan sebagai tersangka bisa berakrobat supaya lepas dari jerat hukum. Hal inilah yang tidak bisa dibiarkan. Karena bangsa-bangsa yang hebat adalah yang menjunjung tinggi etika, etos kerja, dan daya juangnya.
 
Sebaliknya korupsi, pemerkosaan hukum, dan pelanggaran etika dan nilai luhur akan menggerogoti kekuatan kita sebagai bangsa. Banyak kepala daerah dan anggota legislatif yang tertangkap tangan karena kasus korupsi. Padahal kepala daerah adalah pemimpin yang seharusnya menjadi panutan atau contoh bagi rakyatnya.
 
Maksudnya?
Tugas pemimpin politik itu kan dua hal. Pertama memberikan manfaat bagi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, dengan mencapai target dan janji-janji ketika berkampanye. Kedua, menjadi panutan dan memberi teladan dalam perilaku dan nilai-nilai luhur bagi masyarakatnya. Dan solusinya adalah, membangun kehidupan politik yang berkeadaban. Politik dengan tujuan melayani, bukan menghalalkan segala cara untuk tujuan pribadi dan kelompok. Politik berharkat mulainya bukan dari logistik, tetapi dari idealisme, gagasan yang dipadu dengan semangat juang untuk mewujudkannya.
 
Anda prihatin karena apa?
Dengan banyaknya kepala daerah, mulai dari bupati, walikota, sampai gubernur yang terseret dalam kasus-kasus korupsi. Kepala Daerah yang terlibat korupsi adalah mereka yang lupa batas antara urusan pribadi dengan urusan publik. Kalau para pemimpin dan para pembuat hukum terjerat kasus korupsi, maka layak jika disebut negara berada dalam keadaan darurat korupsi.
 
Punya resep buat para pejabat untuk menghidari korupsi?
Sederhana resepnya, sadar akan posisinya dan jangan campur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Harus ada, upaya-upaya ekstra guna mengatasi kedaruratan itu agar korupsi tidak menjadi budaya. Kalau sudah jadi budaya, harkat kita sebagai sebuah bangsa hancur.
 
Anda sempat menyebutkan Indonesia dapat menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia, bisa jelaskan?
Berkaca dari sumber daya yang dimiliki Republik Indonesia. Dimana, negara-negara dengan sumber daya alam rendah saja, dapat menjadi kekuatan ekonomi yang menentukan, sebut saja Singapura atau Korea Selatan.
 
Sayangnya, sampai hari ini kita masih menemukan perekonomian nasional maupun daerah masih terseok-seok. Masyarakat hidup dibawah standar kualitas hidup layak dunia. Gaji pokok buruh dan pegawai masih sangat kecil. Pemenuhan kebutuhan rakyat masih tersendat. Tingkat pendidikan masih rendah. Dan, kesejahtraan rakyat masih sangat jauh.
 
Biang keladi dari semua situasi buruk ini berakar pada faktor aja?
Banyak faktor. Di satu sisi, sumber daya alam yang melimpah tidak mampu kita kelola secara maksimal dikarenakan rendahnya pembangunan sumber daya manusia. Terbukti, perusahaan multinasional berpesta menggarap sumber daya alam Indonesia, sementara penduduknya merantau menjadi tenaga kerja atau buruh kasar di luar negeri. 
 
Tegasnya, Anda menyebut biang keladi yang menjadi penyakit kronis di negeri ini adalah korupsi?
Benar. Korupsi tidak hanya menggerogoti sumber daya alam dan sumber daya finansial negara, melainkan juga merusak mentalitas para pejabat publik. Akibatnya, tindakan-tindakan penyelewengan menjadi pemandangan lumrah di semua lembaga negara, mulai eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
 
Dampak fenomena korupsi sangat besar pada pertumbuhan ekonomi nasional. Persaingan usaha tidak berjalan adil, program pembangunan dijalankan seadanya karena penuh dengan penyelewengan, atmosfer dunia usaha tidak tumbuh maksimal, mentalitas pejabat dan masyarakat rusak, dan dana bantuan sosial masuk ke kantong pribadi. Semua ini menghambat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial masyarakat.
 
Ekonomi nasional akan menjadi besar apabila mampu dikelola dengan baik. Namun, jika birokrasi pemerintahan masih dicengkeram oleh korupsi maka mustahil membayangkan ekonomi nasional akan tumbuh.
 
Maksudnya?
Komitmen untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan upaya pemberantasan korupsi. Para koruptor harus diproses sesuai hukum yang berlaku secara adil, sementara semua sistem yang menumbuhkan budaya korupsi harus dirubah.
 
Artinya, harus ada upaya serius dan sistematis yang dilakukan oleh pemerintah dan semua lembaga yang berkepentingan untuk memberantas korupsi. Jika pemberantasan korupsi tidak menjadi komitmen bersama, maka kesengsaraan rakyat akan menjadi pemandangan yang terus-menerus menyesakkan dada.
 
Bukankah, Anda sudah fokus pada penanggulangan korupsi melalui pembangunan penguatan kelembagaan, institutional reform (reformasi institusional)?
Ya. Karena itu, saat itu kita bersepakat mendirikan MTI (Masyarakat Transparansi Internasional). Saya ditunjuk sebagai sekretaris eksekutif. Praktis saya lah yang bertanggung jawab memimpin riset, menyelenggarakan diskusi, mengadakan publikasi serta event-event, mengelola penerbitan dan lain-lain.
Produk pertama dari MTI adalah kajian atas kepres-kepres (keputusan presiden) yang menyimpang di zaman Pak Harto. Kita menemukan banyak sekali. Kemudian berikutnya kita mendorong didirikannya KPK. Waktu itu, kami menamainya Badan Independen Anti Korupsi (BIAK).
 
Apa yang pertama-tama Anda persiapkan dan rekan-rekan MTI dalam rangka mematangkan konsep tentang badan pemberantasan korupsi itu pada waktu lalu? 
MTI melakukan studi dengan menyusun konsep awal mulai dari menyusun naskah akademi hingga pada penyusunan undang-undang. Dokumen-dokumen itu kemudian dirangkaikan dengan dokumen yang dibikin oleh Amin Sunaryadi, namanya ‘Strategi Nasional Pemberantasan Korupsi’. Kedua dokumen itu kemudian disosialisasikan oleh MTI ke banyak pihak. Tentu MTI bukan satu-satunya yang menyuarakan perihal ini.
 
Kita tidak bisa mengklaim bahwa MTI satu-satunya. Tapi kami termasuk yang sangat vokal, yang sangat kenceng mengusulkan itu dan melakukan lobi, ke seluruh partai waktu itu, ke PDIP, PPP, Golkar, dan beberapa kali menulis surat kepada Presiden Habibie.
 
Termasuk menulis surat terbuka?
Ya, kami bikin diskusi publik, mendatangi badan pekerja DPR, kemudian bahkan ketemu pimpinan TNI, pimpinan lembaga-lembaga kementerian yang bisa mendukung gagasan ini. Alhamdulillah pada sidang MPR, pasal yang kita usulkan masuk. Kemudian belakangan jadilah itu undang-undang pemberantasan korupsi kan.
 
Adapun pasal yang diajukan oleh MTI, yang terutama adalah bahwa pada suatu saat, haruslah dibangun atau dibentuk lembaga independen  yang akan menanggulangi korupsi. Dan itu jadi cantelan pada proses-proses berikutnya baik pada saat pembuatan undang-undang atau pada waktu membentuk badannya.
Keterlibatan rekan-rekannya di MTI tidak berhenti pada sekedar pembuatan undang-undang. Mereka jugamelakukan pengawalan pada saat sudah terbentuk badan resmi bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka turut serta mengawal ketika perekrutan figur-figur yang dianggap kredibel untuk menjadi pimpinan KPK.
 
Bahkan saya terlibat pada saat merekrut lapis kedua dan ketiganya. Karena saya diminta oleh konsultan rekrutmennya untuk menjadi salah satu pewawancara untuk mencari deputi, dan lain-lainnya.
 
Ngomong-ngomong, Anda baru pulang naik haji, Adakah Pengalaman Kontemplasi yang Menarik?
Saya hanya berdoa, dan berdoa agar orang-orang baik bersatu untuk kesatuan negeri. Saya  sudah tidak mikir keluarga, lebih banyak mikir. Hampir semua pikiran saya ke negara. Ya Allah beri kekuatan orang-orang baik untuk bersatu, hanya itu yang menggelayuti pikiran saya.
 
Anda galau?
Keprihatinan ini terhadap negara membuat saya cukup galau. Degradasi keprihatinan publik, ketika korupsi sudah mencapai level yang mengkhawatirkan dan norma-norma telah anjlok. Korupsi menjadi sorotan publik. Dan membetulkannya pun agak berat.
 
Apakah perlu pemimpin yang ikonik untuk menyelesaikan masalah-masalah negara ini?
Ukurannya bukan ikonik, tapi kompetensi. Kompetensi bisa batin, kompetensi intelektual, kompetensi visi dan wawasan, kompetensi teknik, yaitu ketrampilan mengerjakan sesuatu. Begitu juga kompetensi wawasan horisontal, yaitu wawasan untuk sekelilingnya. Masyarakat butuh pemimpin seperti ini. Indonesia adalah negara yang besar, bandingkan dengan Eropa, jauh sekali.
 
Indonesia kalau disepadanikan, mirip Negara mana?
Negara kita, sulit padanannya. Demokrasi harusnya bukan melahirkan pemimpin yang popular. Tapi pemimpin yang mempunyai komptensi dulu, baru populer. Saya tidak sepakat jika demokrasi di Indonesia saat ini kebablasan. Ini hanya proses lah, itu sih menurut saya.
 
Tahun 2018 adalah tahun politik, apakah Anda juga sudah memetakannya, misal untuk Jawa Tengah?
Indonesia umumnya dan Jateng khususnya, harus dibangun menggunakan tangan-tangan bersih, agar slogan ora korupsi, ora ngapusi benar-benar terlaksana, tidak berhenti sebagai kata-kata semata.
 
Demokrasi kita belum matang. Sebagian pelaku demokrasi belum melihat satu panggilan publik semata-mata. Selama politik jadi daya tarik utama, panggilan publik belum sepenuh hati. Harusnya pelaku politik jangan mengandalkan hidup dari politik. Kita harus belajar dari politisi para pendiri bangsa. Mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri, sehingga politik adalah panggilan publik.
 
Kalau sekarang, bagaimana?
Kebanyakan kehilangan langka, datang ke politik bukan untuk berbuat banyak. Idealisme hebat tak lagi terdengar. Tidak ada pikiran atau gagasan besar, besar, lagi visioner. Sulit untuk mencari produk-produk politik yang fundamental dan monumental lagi. Demokrasi kita hari ini lebih disesaki panorama uang dan berbanding terbalik dengan pemandangan di ruang-ruang sidang parlemen yang sering kosong. Kalaupun terisi, mutu siding dan pembahasanya jauh dari berisi.
 
Suasana pengap, bau amis korupsi, oligarkis dan dikontrol sosok tertentu. Jika ini terus dibiarkan, kelak demokrasi kita akan tiba pada suasana menghancurkan diri sendiri (self destruction). Hanya soal waktu saja akhirnya peri kehidupan berdemokrasii mengalami disfungsungsi, kehilangan esensinya.
 
Keadaan ini tak boleh dibiarkan ya?
Harap diingat, bahwa politik adalah hulu dari seluruh sendi-sendi kehidupan bernegara. Regulasi, pemilihan pemimpin politik hingga kita punya harapan.
 
Harapan apa yang Anda tawarkan?
Saya lagi menjajaki selama empat bulan terakhir. Potensi Jawa Tengah itu besar sekali. Saya bertemu dengan kyai-kyai dan tokoh-tokoh masyarakat. Saya juga belajar angka-angka. Dan terus bertanya. Letak geografis Jawa Tengah itu sangat strategis. Dari pusat hanya 5-6 jam nyampe, jika ditempuh jalur darat. Dari pusat pendidikan di Yogya juga dekat. Dari Cepu-Bojonegroro, kawasan industri minyak juga dekat. Dengan letak georgrafis yang baik ini, kenapa pertumbuhan Jateng lambat? PAD-nya rendah, dan 28 juta rakyat masih miskin?
 
Apa karekter orang Jawa yang mendominasi masyarakat Jateng yang gampang untuk ‘nrimo’?
Masyarakat Jateng itu maunya baik-baik saja, menghormati pemimpinnya. Jika bertemu dengan pemimpin yang baik, enak betul memimpinnya. Mereka itu ‘matut’ hormat. Dan saya kira itu betul. Saat bertemu Kyai Maemun Zubair, dia banyak bercerita tentang tembang-tembang Jawa. Ternyata tembang-tembang ini sumber moral yang baik bagi masa lalu, seperti cerita peninggalan-peninggalan dan pemimpin-pemimpin masa lalu yang bisa mendongkrak perubahan.
 
Jateng adalah tulang punggung republik, pahlawan dari Jateng itu ratusan. Elite militer juga lahir dari Jateng. Pamong praja dari Semarang. Dari alamnya Jateng sangat baik, sehingga tidak ada alasan Jateng tertinggal dari provinsi lain. Harus ada terobosan sehingga Jateng bisa bagus dan tingkat kesejahteraan rakyatnya meningkat.
 
Lalu, apa yang membuat Anda yakin untuk maju dan ikut bursa pencalonan Gubernur Jateng 2018?
Saya juga sedang tidak mencari pekerjaanDari berbagai pertemuan dengan berbagai lapisan masyarakat seperti tokoh politik, ulama, akademisi, dan tokoh-tokoh media, kesan yang saya tangkap adalah, mereka antusias serta membutuhkan pembaruan.
Masyarakat Jawa Tengah sedang membutuhkan pembaruan dan penyegaran. Kesan ini saya simpulkan setelah melakukan perjalanan keliling 23 kota/kabupaten di Jawa Tengah.
 
Kesimpulan dari kesan yang saya dapat setelah berdialog dengan berbagai lapisan masyarakat, yakni tokoh, kiai, pengusaha, hingga kalangan kampus di Jawa Tengah. 
Harapan masyarakat ini, saya kira, ruang bagi munculnya figur-figur di Pilkada Jateng.
Demokrasi yang baik memang butuh pilar parpol yang kuat, oleh karena itu saya tidak mempertimbangkan untuk masuk dari jalur independen. Saya ingin berbuat yang terbaik di negeri ini.
 
Bukannya Anda sudah GInternasional, mengapa memilih untuk balik ke jalur lokal?
Ini off the record ya (Ia menyebut sempat ditawari posisi). Tapi, saya tolak tawaran itu. 
Saya ingin balas jasa terhadap daerah asal saya, Jawa Tengah, darimana saya berasal. Saya orang desa, umur 9 tahun Bapak saya meninggal. Untuk menyelesaikan jenjang SD-SMA sekolah saya tertatih-tatih. Setiap semester selalu ada drama, karena untuk urusan nomor ujian. Semuanya berangsur-angsur berubah setelah saya sekolah di STAN dan mendapat biaya kedinasanan. 
 
Saya merasa berutang pada negara. Saya tidak pernah menolak tugas publik apapun, mau jadi gubernur atau bupati itu sama saja. Bahkan saat ini jadi tim ketua sinkronisasi untuk gubernur DKI sekarang. Semua itu tugas, dan saya wajib melaksanakan.
Untuk pencalonan Gubernur Jateng pun tidak ada strategi apa-apa. Ini cuma kebetulan saja, dan bagian saya membayar hutang pada negara.
 
Bagaimana Anda menanggapi wacana duet dari Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar?
Saya berpasangan dengan siapa aja, siap. Siapa yang dicalonkan cagub atau tidak itu kehendak rakyat. Semua wacana terkait figur yang akan diusung pada Pilkada Jateng masih dinamis. Kami buka semua kemungkinan itu.
 
Dalam Pilgub Jateng 2018, pencalonan Anda dikait-kaitkan dengan tiga partai politik, yakni Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Amanat Nasional?
Saya akan terbuka dan terus membangun komunikasi politik yang intens dengan partai politik lain. Alhamdulillah sudah ada tiga pertai yang akan mendukung saya, Gerindra, PKS dan PAN. Saya sudah diundang ke kepengurusan daerah.
 
Anda berupaya mengembalikan demokrasi dan politik kita, seperti kemauan pendiri bangsa?
Semua ada waktunya. Saya paham politik kita dinamis, dan saya terlalu polos. Tapi, ya saya adanya begini lah. Banyak pemimpin daerah yang datang dengan itikat baik seperti saya. Seperti Bu Risma itu, dia bukan orang politik, tapi partai butuh figur, sehingga didukung partai politik.
 
Kita lihat saja gimana nanti situasi jalannya. Masyarakat Jateng butuh pembaruan, terobosan-terobosan baru. Saya punya pengalaman memimpin salah satu BUMN, pernah di swasta, lalu bertugas untu rekonstruksi Aceh yang dipenuhi dengan suasana konflik. Ini pengalaman yang saya tawarkan.
 
Ada 35 kabupaten/kota yang perlu sosialisasi, dan kita kepinginnya selama Oktober semua sudah kita kunjungi. Jalan masih panjang, dan kita harus banyak bersentuhan dengan masyarakat. Semakin banyak bersentuhan itu baik. Hanya perlu energi yang dipersiapkan, ini daerah yang luas sekali. Semalaman saya pernah enggak tidur untuk ngejar Purwokerto-Rembang. Tapi saya menikmatinya, datang ke daerah dan langsung berinteraksi dengan masyarakat.
 
Apakah Anda ingin menulis sebuah buku putih yang diungkapkan, berhubungan dengan pengalaman Anda selama ini?
Hahahaha…..saya sudah menulis beberapa buku. Bicara masalah kedaulatan ada 4 hal, korupsi itu kendala struktural, hukum yang bisa dibeli, siapa yang punya uang bisa beli itu. Dan ini memprihatinkan. Lalu kesenjangan ekonomi, ada ikatan-ikatan sosial yang sangat rentan.
 
Benarkah, negara kita pada level yang merusak diri sendiri?
Lingkaran setan mewarnai. Lembaga politik yang rusak, adalah lembaga rakyat sendiri. Ini bukan persoalan enteng. Justru yang menjaga mata air dan batas-batas itu sudah rusak. Bukan perkara rektor bagi-bagi gelar saja, dan bupati korupsi, tapi lembaga rakyatnya yang rusak.
 
Momen doa bersama yang Anda lakukan dalam acara halaqoh (pertemuan) alim ulama Jateng di Pondok Pesantren Al Ishlah Assalafiyah di Desa Luwungragi, Bulakamba, Brebes, Jateng, beberapa waktu yang lalu, apa ini juga momen mencari dukungan?
Saya merasa senang bisa bersilaturahmi dengan para kyai dari 23 kabupaten/kota di seluruh Jateng. Apalagi didoakan ratusan kyai. Sungguh ini momen yang luar biasa. Doa para kyai membuat saya semakin percaya diri dalam melangkah. Ini bekal spiritual yang penting dalam perjalanan saya untuk berkiprah di Jawa Tengah.
 
Anda juga sering mengunjungi pondok pesantren?
Saya pernah tampil sebagai pembicara dalam halaqoh bertajuk peran pondok pesantren dalam penguatan pendidikan karakter bangsa. Pesantren merupakan salah satu wadah kaderisasi kepemimpinan. Pendidikan pesantren yang mengajarkan nilai-nilai agama dan pengetahuan lain, beserta cara kehidupan pesantren merupakan wahana yang baik untuk terciptanya pemimpin.
 
Kemandirian yang merupakan tradisi santri merupakan bagian dari proses pembentukan kepemimpinan. Karena itu tidak heran jika banyak tokoh dan pemimpin di level nasional maupun daerah lahir dari rahim pesantren. Misalnya KH Abdurahman Wahid, Hidayat Nur Wahid, Din Syamsuddin, Zulkifli Hasan, dan sederet tokoh lainnya.
 
Pemimpin bekerja semata untuk kepentingan rakyat. Yang kadang susah mencari jalan keluar karena ada kepentingan pribadi dan kelompok. Nah, kalau sudah ada konflik kepentingan, sulit mencari jalan keluar. Seorang pemimpin harus memiliki karakter yang kuat. Pemimpin yang memiliki karakter yang kuat, akan mampu membawa kemajuan bagi masyarakat dan daerah yang dipimpinnya. Pemimpin yang memiliki karakter akan mampu menghadapi setiap tantangan.
 
Apa sih kelebihan Jawa Tengah dibanding dearah lain, sehingga membuat Anda ingin kembali ke tanah asal?
Jawa Tengah punya banyak kelebihan, sedangkan pendapatan daerah dan kesejahteraan rakyat biasa-biasa saja. Dimanakah pemasok rempah-rempah paling banyak di pulau Jawa ini? Jawabnya ada di sini, di Provinsi Jawa Tengah. Struktur tanah dan kandungan alamnya begitu sempurna sehingga menghasilkan panen tanaman begitu sempurna.
 
Bawang merah dan bawang putih merupakan salah satu tanaman sayuran yang menjadi menu pokok hampir pada semua jenis masakan dengan fungsi sebagai penyedap masakan dan khasiat bagi manusia. Daerah penghasil bawang di pulau Jawa ini banyak terdapat ya di provinsi ini.
 
Petani dan pemerintah harus terus berkolaborasi sehingga menghasilkan kerja sama yang baik. Pupuk tanaman harus menjadi prioritas pemerintah agar terdistribusi dengan baik. Saya berharap Jawa Tengah terus bisa berkonstribusi untuk Indonesia, lewat kandungan alamnya, semoga terus mempertahankan prestasi sebagai provinsi yang banyak berkonstribusi. Dan rakyat semakin sejahtera.
 
Bagaimana dengan relawan Anda, ‘Sahabat Pak Dirman’?
Relawan? Saya sangat ingin demokrasi itu partisipasi bukan publikasi. Punya uang dan bayar mereka. Tapi,mereka ini tidak dibayar dan membentuk sendiri, saya sampai kaget. Relawan-relawan ini tergerak, dan bukan imam cari makmun. Mereka membangun sendiri dari tingkat provinsi hingga ke kecamatan-kecamatan.
 
Mereka terbentuk sejak Agustus, dari 35 kabupaten, sudah ada perwakilan relawan masing-masing. Relawan ini terus berjalan, dan mengadakan konsolidasi masing-masing relawan. Mereka banyak memberi masukan pada saya.
 
Bagaimana dengan kemah kepemimpinan buat relawan?
Ya, terselenggara di Cilacap, tempat asal Panglima Sudirman. Saya juga kaget pertumbuhan relawan ini begitu cepat. Sehingga jalan untuk dekat dengan partai politik pun semakin cepat.
 
Apakah Anda masih ada waktu untuk menulis atau mengetik tulisan?
Waktu untuk ngetik? Ya jelas masih ada lah, apalagi saya kan masih dosen aktif. Nulis pun masih saya lakukan. Ada tulisan yang lama-lama dan ada tulisan yang baru. Saya mengalami masa produktif sekali untuk menulis saat di ESDM. Karena sering melakukan perjalanan jauh-jauh. Turun dari pesawat tulisan bisa langsung jadi hahaha….
 
Saya kadang menulis tulisan pendek, kadang pendek, dan kadang saya kirim ke media juga. Nah hobi menulis ini barangkali bisa hilang dari dunia politik. Politik itu ide. Tidak mungkin saya tidak menulis dan tidak membaca,maka saya pingin jagain ini deh. Mau tidak mau saya wajib nulis, karena saya ngajar.
 
Apa impian Anda untuk mewujudkan Brebes, kota asal kelahiran Anda?
Saya punya mimpi membangun lembaga pendidikan kelas dunia di Brebes, Jawa Tengah. Brebes adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang perkembangannya lambat. Level pendidikan masyarakat Brebes terbilang rendah dan banyak mengirimkan tenaga kerja tidak terampil ke luar daerah, seperti ke Timur Tengah, Malaysia, Hong Kong, dan sejumlah negara lainnya.
Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *